|
 | Tunjungbiru | Mar 14, 2008 |
Bagi sebagian orang, punya dua, tiga, atau lebih sisi diri adalah hal yang biasa. Dan perubahan selalu berputar seperti gasing bermata satu: cepat dan mengejutkan. Tunjungbiru, adalah sosok malam yang bercerita. Lewat halaman elektronik yang kebiruan, mencoba keluar dari wadag seorang satwika. Selamat menikmati.... Tanpa sengaja, begitu saja.  Mohon diingat, gelitik rasa ini muncul tanpa sengaja, karena membaca berderet pesan di buku muka, yang terekam bertahun lalu. Kemudian ada senyummu yang serupa dengan binar mataku. Desirnya bagai dedauan yang tertiup angin musim gugur. Menggigil kedinginan, lalu tercampak di tanah. Ada sesuatu di dalam sana yang kembali menanggis, tanpa air mata. Luruh teringat percakapan-percakapan lirih, dan bisik lembut. Bagaimana kau, berbicara pada hatiku. Dalam, dalam, sangat dalam.. Bahkan jejak-jejak lama dari huruf-huruf itu masih menunjukkan lekuk dalamnya rasa. Tergelitik inginku bertanya kepadamu, adakah dia atau mereka, yang serupa denganku, yang berbincang dengan hatimu? Seperti ketika kau dan aku menikmati setiap jengkal hela nafas kita, yang terkagum karena tanpa suara, tanpa kata, pun dapat saling menyelami. Ingatan. Ingatanlah yang menghidupkan dan mematikan manusia. Kenangan. Sebagai pintu yang membuka kembali memori-memori purba dari kedalaman hati, bukan hanya pikiran. Ah, daun yang gugur, bahkan sampai kuberharap ceruk jiwa ini tak lagi bisa menghimpun kenangan. Berharap raib begitu saja seperti terhembus angin. Hilang, hilang.. Sehingga hanya ada aku dan sekarang yang menghuni halaman belakang rumah ini. Mungkin ada suatu titik kau kira aku berjuang dengan segala penyesalan. Namun tidak, bukan seperti itu. Nadir yang telah menentukan semuanya. Hanya saja, aku percaya, ruh mu masih sering bercakap dengan ruh ku. Di kesunyian, di perbatasan alam. Di kejauhan, aku masih percaya. Ada dalam doamu, wajahku terselip, meski bukan dengan nama atau kata.. Aku pun selalu berdoa untukmu. Kutitipkan separuh kebahagiaanku dalammu. Dan ada sebagian kebahagiaanmu pula padaku. Untuk daun-daun yang jatuh..... *pic source: dieffi.devianart.com sebetulnya, kebenaran selain kebenaran Yang Satu, adalah tubuh yang relatif, bukan? semakin banyak yang coba kau telan dan kau telaah, semakin tak mengerti engkau. semakin tinggi rasa-rasanya awang-awang kebenaran itu. semakin menyadari bahwa ilmu yang terjangkau otak adalah sedikit saja. secuil dari ilmu Yang Hakiki. ketika hingar bingar mereka katakan bahwa ini dan anu yang terbenar. sesungguhnya mereka mementahkan keyakinan mereka sendiri. kebenaran yang mereka turut adalah relatif. benar menurut mereka. sedangkan menurut yang lain? belum tentu. adalah sebuah proses mental spiritual, ketika ruh mencoba menantang mencari kebenaran. maka ruh hanya akan menemukan ruang gelap dan hampa. lalu mereka bermahfum, ya, ternyata kebenaran adalah aku. tidak ada Yang Satu, karena kutemukan ruang hampa yang hanya ada aku. aku adalah kebenaran. bodoh. padahal ruang gelap dan hampa itu ada karena nur atau cahaya ruh nya tidak sampai. padahal dilapis terluar ruang gelap itu ada silau yang bermandikan cahaya. itulah kebenaran Yang Hakiki. Yang Satu. Yang hanya bisa ditemukan ketika suatu ruh meninggalkan kebenaran lain, dengan hanya berpegang pada Yang Satu. Sehingga Yang Satu mengijinkan sang ruh melebur bersamanya, menjadi dua yang satu. Loro-loroning Atunggal. Bhi (n) eka Tunggal Ika. jadi? mana yang benar? :)  | rindu | Oct 20, '10 3:56 AM for everyone |
aku sakit rindu, sampai kepalaku rasanya berputar-putar tak karuan. sesak, sesak.. sesak sekali. seperti buncah tangis yang mengendap, tak bisa keluar dari dada. apa-apaan ini? mengapa aku ada disini? apa yang kulakukan? aku rindu, sangat-sangat rindu. pada bau nafas itu, pada hangat dada itu. aku rindu, sangat-sangat rindu. pada mata sayu itu, pada aroma tembakau itu. pada gelak tawa dan suara berat itu. tolonglah, mintalah aku kembali, maka aku akan kembali pada rumah itu... |  | august 1st, 2010 |
 | jenggot | Jul 9, '10 5:10 AM for everyone |
Apakah aku kehilangan jiwa semesta? Aku semakin tidak mengerti, dengan pikiran-pikiran orang dewasa (ups, berarti aku menolak mengkategorikan diri sebagai orang dewasa?)
Rasionalitas, logika, empirisme, materialisme.. Apakah, iyakah? Semua hal kehidupan ini diukur dari hal-hal tersebut diatas? Dalam mengambil keputusan, dalam bersikap, dalam menentukan hal-hal penting dalam hidup? Lantas kemana perginya kemurnian intuisi? Kata hati? Gairah-passion, akan kehidupan itu sendiri?
Siang kemarin aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Karena pengaruh mereka, yang berpijak pada materi, kefanaan.. Aku melupakan jiwaku, melupakan passion, melupakan debaranku. Menghiraukan suara-suara yang secara misterius membimbingku. Aku mengubur mereka, mengubur intuisi itu. Padahal disitulah letak kekuatanku. Entitasku sebagai suatu makhluk yang unik.
Dangkal, sungguh dangkal. Karena mereka, aku melakukan semua ini. Mempertanyakan kehidupan dari kematerian. Menghilangkan berkas-berkas kejatian diriku sendiri. Hingga mencari-cari alasan mengapa aku harus memilih hidupku seperti ini, dan memilih dia. Dengan segala penjelasan-penjelasan logika.
Bukan, bukan itu.. Karena aku bukan ibu-ibu arisan, aku bukan oportunis, aku bukan perempuan pesolek, aku tidak cantik, dan aku tidak juga begitu pintar. Aku berbeda. Aku menginginkan dia, karena keyakinan. Karena intuisi-intuisi. Karena energi yang terpancar dari mata. Aku memerlukan dia, untuk bisa bersatu dengan alam, dengan semesta. Melalui dia, aku mengejawantahkan keperempuananku.
Dan jangan lupa, Tuhan bukan laki-laki. Bukan materi dan rasio. Tuhan adalah serupa ibu yang memeluk... Tuhan ada dimana-mana, tidak sembunyi di balik awan. Katakan, nilai-nilai kehidupan apa yang kau pegang teguh sebagai penunjuk jalanmu? Menjaga otakmu tetap waras, dan hatimu tetap sejuk seperti salju? Meski usia telah mengantarmu ke penghujungnya.
Ada cerita tentang orang-orang yang telah kalah. Bukan kalah dalam pertandingan, bukan kalah dengan nasib, atau kalah melawan tirani penguasa. Melainkan mereka yang kalah terhadap dirinya sendiri. Tanyakan lagi, apakah kau termasuk dari mereka? Kata orang bijak, musuh utama adalah diri sendiri. Ceritakan padaku, apakah kau pernah membuat orang-orang menangis? Namun hatimu tetap beku, syarafmu mati rasa. Kau tetap yakin dirimu orang baik-baik sedunia. Taat beribadah dan menyantuni fakir miskin. Tapi lihat, keculasanmu terbungkus wajah teduh, dengan dalih masa tua atau membela keluarga. Kau buat orang-orang menangis dengan ketidakadilanmu menampar-nampar muka.
Lalu pikirku, makhluk munafik macam apa mereka? Sebuah sifat yang sangat membingungkan. Seolah pribadi manusia terbelah menjadi dua. Orang-orang waras yang merelakan dirinya sendiri menyerah kalah pada ketamakan, keegoisan, atau pretise hidup fana. Tanpa mau mendengarkan hati nurani yang menjerit-jerit memperingatkan. Tanpa mau menghiraukan luka manusia lain.. Kemunafikan.. Dan karena itu, kusebutkan, mereka telah kalah..
|